JAKARTA – Anggota DPD RI dapil Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, menyampaikan narasi kritis dalam acara Diskusi Publik bertema “Papua Dalam Cengkraman Militerisme” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Gedung LBH Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Paul memberikan respons langsung terhadap kebijakan pemerintah pusat terkait pengelolaan sumber daya alam dan keamanan di Papua.
“Kata Presiden Prabowo sawit itu miracle crop. Saya setuju dan mendukung hal itu, tetapi saya tegaskan jangan tanam di Papua,” ujar Paul membuka pernyataannya.
Dijelaskan oleh Ketua Kerukunan Keluarga Papua itu, Papua bukan tanah kosong, tanah Papua itu tanah negara sesuai UU Otsus Papua. Bagi masyarakat Papua, tanah adalah “Ibu” yang memberikan kehidupan.
“Kalau masih sawit dipaksakan ditanam di Papua, akan terus timbulkan konflik,” tutur dia.
Senator Paul Finsen Mayor menilai kekuatan politik yang didukung militer sangat kuat mencengkram Papua, sementara masyarakat adat tidak memiliki kekuatan meskipun selalu melakukan penolakan.
“Siapa punya uang banyak bisa beli politik, beli kekuasaan. Inilah yang harus dipikirkan anak-anak muda Papua ini, pikirkan harkat dan martabat masyarakat Papua supaya kita tidak dijajah di tanah sendiri,” tambahnya dengan nada tegas.
​Sebagai solusi untuk menghentikan kekerasan, Paul Finsen Mayor meminta Pemerintah untuk mengedepankan persuasi daripada pendekatan senjata. “Pemerintah harus ajak bicara kelompok orang-orang yang berseberangan untuk membahas Papua. Supaya jangan ada jatuh korban. Kasihan TNI-Polri korban, masyarakat korban,” imbaunya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap pihak-pihak yang menjual nama Papua demi kepentingan pribadi di lingkaran kekuasaan. “Ada orang yang mengatasnamakan orang Papua, kemudian membujuk di Istana untuk begini begitu di Papua, kemudian perlahan-lahan lepaslah sumber daya alam Papua,” tegas Paul.
​Di akhir pernyataannya, Paul memberikan pesan penyemangat bagi generasi muda Papua untuk segera melakukan perubahan karakter dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing secara global.
Penyelesaian konflik butuh anak-anak Papua yang pintar sehingga bisa jaga wilayah. Kalau tidak pintar, nanti orang luar datang kuasai Papua.
“Anak-anak Papua harus pintar. Rajin belajar, bangun karakter, ubah kebiasaan menjadi lebih baik. Perbanyak bergaul dengan orang-orang yang ingin maju dan punya masa depan. Diskusi, baca buku, bikin kegiatan positif. Anak-anak Papua harus kembangkan diri, untuk kemudian ilmunya kita terapkan di Papua,” pesannya.
Ia pun mendorong anak muda untuk memanfaatkan teknologi digital dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua. “Gunakan media sosial, lebih gampang. No viral no justice. Anak-anak Papua harus bersuara tentang apa saja di Papua,” pungkasnya di hadapan peserta diskusi.
Penulis : Dwi P


